KEREN Kompor Tenaga Matahari Asli Buatan Anak Negri




Makin Diminati, Kompor Tenaga Surya Buatan Minto


BERAWAL dari pemikiran, suatu saat kayu hutan dan minyak bumi akan habis. Minto
(48), guru SD Negeri Prambon, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur
(Jatim), memikirkan pembuatan kompor tenaga surya. Ketika itu tahun 1986.
Pengetahuannya tentang sifat lensa dan penyerapannya terhadap panas mengilhami
pembuatan kompor tenaga Matahari itu.


Pada tahun 1991, atau lima tahun kemudian,
barulah kompor tenaga surya pertama karya Minto yang warga Desa Mruwak,
Kecamatan Dagangan, berhasil dibuat. Jangan membayangkan ukuran kompor itu sama
besar dengan kompor minyak tanah atau kompor gas, yang banyak digunakan ibu-ibu
rumah tangga.


Kompor produksi Minto terdiri dari sebuah lensa cekung berukuran besar, terbuat
dari himpunan kotak-kotak kaca. Kompor tenaga surya terkecil ukuran diameter
lensanya 1,5 meter. Sementara kompor terbesar diameternya 2,67 meter. Di atas
lensa tersebut diletakkan tempat memasak yang dibuat dari besi.


Jika mentari bersinar, kompor ini mampu mendidihkan satu liter air dalam tempo
dua menit. Kapasitas maksimal air yang dapat dimasak adalah 20 liter, dengan
suhu maksimal 750 derajat Celsius. Saat Kompas berkunjung di kediamannya, Minto
juga mempraktikkan penggunaan kompor tenaga surya itu. Ia memasak ketela pohon,
dan bisa matang dalam tempo 20 menit.



Hingga kini, Minto telah membuat 80 kompor tenaga surya. Dari 80 kompor
tersebut, dua di antaranya dipamerkan di Museum Energi Taman Mini Indonesia
Indah (TMII) Jakarta. "Saya membuat kompor ini berdasar pesanan. Untuk yang
berdiameter 1,5 meter harganya Rp 800.000, sedangkan yang 2,67 meter Rp 2 juta,"
ujar Minto.


Ke-80 kompor tenaga surya itu telah tersebar ke berbagai daerah, mulai dari Nusa
Tenggara Timur (NTT), Bali, Jatim, Jawa Tengah (Jateng), DI Yogyakarta, Jakarta,
Jambi, Lampung, Palembang, dan Kalimantan Barat (Kalbar). Bersamaan dengan
larisnya kompor tersebut, Minto juga laris diundang sebagai pembicara di
berbagai seminar dan pertemuan-pertemuan ilmiah.


Penghargaan sebagai instruktur teknologi tepat guna, pun tak terhitung
banyaknya. Termasuk penghargaan dari Forum Komunikasi Hemat Energi, Direktorat
Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi Departemen Pertambangan dan Energi
(Deptamben), serta sejumlah perguruan tinggi.


IDE-ide berkaitan dengan pembuatan alat-alat bertenaga surya terus muncul di
benak Minto. Setelah sukses dengan kompor, ia berhasil memproduksi mesin
pengering bertenaga Matahari. Alat ini dapat mengeringkan hasil-hasil pertanian,
perikanan, hasil perkebunan (cengkeh, teh, kopi), hasil industri, pakaian, dan
sebagainya.


Alat ini terdiri dari dua komponen. Yakni kolektor dan ruang pengering. Kolektor
berfungsi mengubah cahaya Matahari menjadi udara panas. Udara panas tersebut
secara konveksi masuk dan melewati rak-rak yang ada di ruang pengering. Suhu
maksimal panas terserap, bisa mencapai 65 derajat Celsius, dengan kapasitas
berat maksimal bahan yang dikeringkan 100 kilogram.


Hingga kini sudah 30 mesin pengering tenaga surya yang dibuatnya. Masing-masing
mesin berharga Rp 1,25 juta. Di samping mesin pengering berukuran kecil, juga
diproduksi mesin pengering ukuran besar, dengan berat maksimal bahan yang
dikeringkan mencapai dua ton. Pengering berukuran besar ini baru diproduksi dua
buah, satu di Ponorogo, dan satu di Jombang.


"Sekarang saya juga sedang merancang alat pendidih air tenaga surya. Proses
penyelesaiannya baru 80 persen. Total biayanya mencapai Rp 4 juta. Kalau
berhasil, nantinya alat ini mampu mendidihkan air sebanyak 130 liter," tambah
suami dari Ny Suciati yang juga berprofesi sebagai guru itu.


Jangan pula membayangkan, kompor tenaga surya hanya dapat digunakan untuk
memasak. Kompor berbentuk cekungan kaca itu juga dapat difungsikan sebagai
antena parabola. Minto membuat titik-titik bundar di teras depan rumahnya. Jika
dua kaki kompor diletakkan pada dua bundaran, "antena" itu dipastikan telah
terarah pada satelit siaran televisi.


Tak heran, televisi di rumah Minto, dengan menggunakan kompor plus antena itu,
dapat menangkap lebih dari 60 saluran televisi. Siaran Pakistan TV (PTV),
misalnya, bisa diterima dengan gambar yang jernih. Begitu pun stasiun televisi
India, Star TV Korea, Hongkong, dan sebagainya. Jika ingin menikmati siaran
Eropa, arah antena tinggal digeser. Maka siaran televisi Perancis, Jerman,
Inggris, tersaji di depan mata.


MESKI prestasinya terhitung telah berskala nasional, namun Minto tetap seorang
guru desa yang lugu dan sederhana. Rumahnya memang lebih luas dibanding
rumah-rumah tetangganya di Desa Mruwak. Di samping luas, rumah itu juga tampak
lebih bersih. Namun, luas dan bersihnya rumah Minto tidak lantas membuatnya
berbeda dengan umumnya rumah di desa.


Penampilannya juga khas guru SD di desa. "Saya memang orang desa. Buat apa
repot-repot mengubah penampilan. Orang-orang nanti pangling," ujar ayah dua anak
itu. Yang membedakan rumah Minto dengan kediaman warga desa lain adalah adanya
kompor tenaga surya di halaman rumah. Itu pun sebenarnya wajar, mengingat si
empunya kompor tenaga matahari itu juga kreator dan produsennya.


Ayah Bambang Sujatmiko dan Ervin Puspitasari itu mengaku tidak mengutamakan
keuntungan dari karyanya berupa alat-alat teknologi bertenaga surya itu.
Obsesinya tak lain hanyalah demi mempraktikkan ilmu yang dikuasainya, untuk
penciptaan-penciptaan karya baru.


Era sebelum krisis moneter tahun 1997-1998 diakui sebagai zaman keemasan
pemasaran kompor dan pengering tenaga surya. Tepatnya, antara tahun 1995 hingga
1997. Ketika itu, sering ada dua permintaan dalam sebulan. Sementara untuk tahun
2001, order betul-betul sepi, karena belum ada satu pun pesanan. Tahun 2000
masih lumayan karena ada empat pesanan.


Tentang obsesi terdekat saat ini, ia menyatakan, ingin segera menuntaskan
pengerjaan pendidih air tenaga surya. "Sebab, proses yang sekarang ini adalah
yang keempat kalinya. Dalam tiga proses terdahulu, saya masih gagal. Insya Allah
kali ini berhasil. Saya juga yakin bisa berhasil, cuma dihadang kendala dana,"
tambahnya lagi.

SEKITAR KITA Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger